Pada kunjungan Presiden 18-1-2010 di Ngawi, ketika kelompok tani diwakili oleh Ahmadi untuk menerima bantuan Gubernur Jatim, rasanya ikut seneng dan bangga juga. Sayang sekali temu wicara kelompok tani yang diwakilinya dengan Presiden SBY ditiadakan. Semoga Kelompok Tani Mardi Mulyo yang dia ketuai makin maju dan bermanfaat bagi anggota khususnya dan bagi desa Banaran pada umumnya. Amin.
Waktu / Jam
Hari & Tanggal
Pesan Warga Banaran
Penerjemah 12 bahasa
Daftar Isi :
- Administrator Blog Desa Banaran (1)
- Afrika Selatan Menjelang WC-2010 (1)
- Ahmadi mewakili Kelompok Tani (1)
- Amaliah Gus Dur (1)
- Anggaran Pilkades (2)
- Bakar Jagung di Hongkong (1)
- Bersepeda dengan KH Qosim (1)
- Bill Gates dan Xerox (1)
- Bintang Baru Mart (1)
- dan Menteri (1)
- Demo di Hongkong (1)
- Demokrasi mahal ? (1)
- Denmark (1)
- Foto di dalam Ka'bah (1)
- Foto DN dan LN (1)
- HBH WBC (1)
- Hikmah membaca Al-Qur'an (1)
- Instalasi Biogas (1)
- Ir. Sukarji (1)
- Jadwal Piala Dunia 2010 (1)
- JAHE - Tanaman Obat (1)
- Kades Banaran 1975-1990 (1)
- Kecintaan Ukasyah kepada Rasulullah SAW (1)
- Kelompok Tani Mardi Mulyo (1)
- Khittah Ekonomi Kerakyatan NU (1)
- Kiyai Gaul (1)
- Kyai Sahal Mahfudh dan Gus Mus Hadiri Ta'aruf PBNU (1)
- Lomba Desa (1)
- Masjid Nabawi (1)
- Masjid Pertama akan Dibangun di Copenhagen (1)
- Menukar Rupiyah dengan Riyal (1)
- MM (1)
- Para Kades/Lurah Banaran (1)
- Pertanian (1)
- Pertanian sebagai Landasan Ekonomi (1)
- Pesan Gus Dur (1)
- Pilkades Banaran (1)
- Poligami Rasulullah (1) (1)
- Poligami Rasulullah (2) (1)
- Pramex dan MJ (1)
- Presiden (1)
- Rumah Nabi (1)
- Rumah Paling Utara (1)
- Seragam Panitia (1)
- SMP Terbuka (1)
- SP2010 (1)
- UU Lalin 22/2009 (1)
- Wapres (1)
Ahmadi, mengharumkan desa Banaran
Renovasi Masjid Nabawi senilai 36 Jembatan Suramadu

Keelokan dan keindahan Masjid Nabawi Al-Munawaroh sangat menakjubkan.
Pernahkah Saudaraku menghitung berapa jumlah kubah yang bergerak ?
Berapa banyak tiang penyangga Masjid yang Mewah, Anggun, dan Kokoh itu ?
Marilah kita simak bersama :
1. Kubah bergerak 27 buah
2. Emas yang digunakan untuk ornamen 68 kg
3. Tiang di lantai dasar 2.174 buah
4. Tembaga yang digunakan 1.600 ton
5. Tiang di basement 2.554 buah
6. Luas basement 79.000 m2
7. Tiang di lantai atas (sath) 550 buah
8. Tangga bergerak (eskalator) 4 buah
9. Tangga biasa 18 buah
10. Berat satu pintu kayu 2,5 ton
11. Kamera pengawas di dalam/ luar masjid 543 buah
12. Luas halaman masjid 235.000 m2
13. Halaman yang berlantai granit berwarna 45.000 m2
14. Halaman yang berlantai marmer putih 195.000 m2
15. Kedalaman pondasi 5,4 m
16. Luas maqshuroh selatan 100 x 5 m
17. Panjang terowongan untuk instalasi pipa AC 7 km
18. Lebar terowongan 6,10 m
19. Tinggi terowongan 4,10 m
20. Luas pusat pembangkit listrik dan AC 70.000 m2
21. Luas Area parkir mobil dibawah halaman mengitari masjid di selatan, barat dan utara 290.000 m2
22. Daya tampung area parkir mobil 4.444 bh
23. Jumlah menara 10 buah
24. Tinggi menara 72 m 2 buah
25. Tinggi menara 104 m, tinggi hilal 6 m, berat 4,5 ton 6 buah
26. Menara utama 44,53 m 1 buah
27. Menara di Babus Salam setinggi 38,85 m 1 buah
28. Jumlah kran ruangan bawah tanah 4 lantai untuk wudlu 6.000 buah
29. Jumlah kamar mandi / WC 2.000 buah
30. Perluasan Saudi I dan bangunan al Majidi seluas 16.326 m2 28.000 org
31. Perluasan Saudi II lantai dasar seluas 82.000 m2 167.000 org
32. Perluasan Saudi II lantai atas seluas 67.000 m2 90.000 org
33. Halaman untuk sholat seluas 135.000 m2 250.000 org
34. Total daya tampung 535.000 org
Sumber:
Sejarah Madinah Munawarah, Dr.Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Al-Rasheed Printers, Madinah, 1426 H.
Berapa biaya yang dikeluarkan ?
Sungguh fantastis biaya memperluas masjid menjadi 82.000 m2 tahun 1414 H yang meliputi bangunan-bangunan terdahulu sebesar RS 72,2 M atau kurang lebih Rp.180 triliun.
Iniliah proyek perluasan paling besar sepanjang sejarah Masjid Nabawi.
Bandingkan dengan Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 km membutuhkan waktu pembangunan selama 6 tahun menelan biaya kurang dari Rp. 5 triliun.
Subhanalloh, Alhamdulillah, Allohu Akbar, segala puji hanya untuk Alloh swt.
Semoga menambah keimanan kita. Amiiin.
Pesan Gus Dur

Ada 3 pesan Gus Dur yang disampaikan oleh Mbak Yenny untuk kita semua pada peringatan 7 hari meninggalnya almarhum di Tebu Ireng Jombang yaitu :
1. Setiap perbuatan harus ikhlash
2. Selalu mencari ilmu pengetahuan dan menyempurnakan akhlaq
3. Menegakkan keadilan dan membela kebenaran
Pesan ini berlaku untuk semua bangsa Indonesia bahkan dunia tanpa membedakan suku, agama, dan golongan.
Burj Dubai

Burj Dubai tinggi menjulang 800 meter dengan 160 lantai atau setara 6 kali tinggi Monas di Jakarta. Burj Dubai dilengkapi dengan 57 lift tercepat di dunia yang mencapai 64 km/jam. Reuters/Ahmed Jadallah. Gedung ini akan memiliki 1.044 apartemen, 49 lantai ruang kantor serta Hotel Giorgio Armani. Reuters/Mosab Omar. Luas total bangunan mencapai 330.000 meter persegi. Proyek prestisius ini mengalahkan Menara Taipei 101 di Taiwan. AFP/Karim Sahib (detiknews 5-1-2010)
Kereta Api Pramex dan Madiun Jaya (MJ)

Bepergian dari Yogyakarta (Yk) ke Madiun (Mn) dengan menggunakan mobil pribadi, Kereta Api Sancaka, atau dengan bus bukanlah hal baru. Tetapi dengan menggunakan Kereta Api Pramex (Yk-Solo) kemudian dilanjutkan dengan MJ (Slo-Mn)adalah suatu hal baru. Untuk route Mn-Yk, dapat menggunakan MJ (Mn-Slo) dilanjutkan dengan Pramex (Slo-Yk). MJ berangkat dari Stasiun Madiun jam 05.30 WIB. Untuk Slo-Yk tidak ada masalah karena ada lebih 6 kali sehari untuk Pramex dan terakhir jam 19.00 WIB.
Untuk route Yk-Mn, kita harus naik KA Pramex yang berangkat dari Stasiun Tugu jam 06.30 atau berangkat dari Stasiun Lempuyangan jam 06.40. Tiba di Stasiun Balapan Solo kira2 jam 07.55, kita turun di sini dan membeli tiket KA MJ, masih ada waktu kira2 20 menit menunggu keberangkatan KA MJ ke Madiun pada jam 08.15. Ongkos tiket Yk-Mn adalah 21 ribu rupiah, yaitu tiket Pramex 9 ribu rupiah dan tiket MJ 12 ribu rupiah.
Dalam hal ini tidak ada yang istimewa, biasa saja, kecuali hal ini adalah perjalanan perdana Yk-Mn menggunakan Pramex dan MJ. Tetapi saya teringat ketika naik kereta di luar negeri seperti di Kuala Lumpur, Singapore, Munchen, Zurich, Genewa, Wina, Paris, dan beberapa kereta di kota-kota Eropa. Ada kesamaan meskipun tidak persis, yaitu keretanya bersih, nyaman, toilet bersih, tertib, bebas pengamen dan pedagang asongan, meskipun tanpa pendingin ruangan (AC) tetap nyaman. Asesoris di dalam gerbong kereta juga tidak kalah dengan kereta di manca negara. Pokoknya sudah memenuhi standard internasional.
Baiklah mungkin kereta sudah memenuhi standard internasional, tetapi menurut pengamatan saya penumpangnya masih perlu pembinaan, perlu ditingkatkan kualitasnya. Masih ada penumpang yang membuang sampah sembarangan, tidur di kursi, dan sebagainya. Ini perlu waktu dan kita harus yakin bahwa meskipun pelan tapi pasti penumpang kereta api akan meningkat kualitasnya. Insya Allah, Amin.
Keterangan foto :
Kiri Atas : KA Pramex di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.
Kanan Atas : Di dalam gerbong KA Pramex.
Kiri bawah : KA MJ di Stasiun Balapan Solo.
Kanan bawah : Di dalam gerbong KA MJ.
Rumah Paling Utara

Rumah paling utara di desa Banaran adalah rumah almarhum Pak Hasyim dan sekarang dikontrak oleh Pak Djiono yang dipakai sebagai Toko Material. Lokasinya berbatasan dengan desa Klorogan dan terletak di sebelah utara kanal. Harga material di toko ini relatif lebih murah, apalagi kalau membeli keramik, beberapa orang mengatakan bisa lebih murah daripada toko Keramik di Madiun kota. Silahkan coba !.
Ada apa di dalam Ka'bah
Jangankan untuk masuk ke dalam Ka'bah, untuk mencium hajar aswad saja sangat sulit, memerlukan kesabaran dan perjuangan mental dan phisik. Untuk ibu2 disarankan melihat dari jauh saja, karena sangat berat dan resikonya malah berdosa. Misalnya saya pernah melihat seorang ibu nekad sampai terlepas jilbabnya juga sebagian mukenanya, ini sama dengan membuka aurat di depan ka'bah, berdosa !, na'udzubillahi min dzalik.
Subhanalloh walhamdulillah, saya mendapat sebuah foto di dalam ka'bah dari seorang teman (foto di atas). Untuk masuk ka'bah adalah suatu mission impossible. Keluarga Presiden Suharto pernah diijinkan oleh Raja Fath masuk ka'bah. Kalau kita cukuplah melihat fotonya.... (kiriman : Purwanto)
Rumah Petak Milik Nabi

Kamis, 19 November 2009 | 13:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Bersujud di depan makam Nabi Muhammad SAW rasanya seperti tersedot magnet raksasa. Ada rasa haru yang mengiris-iris. Bukan kesakralan makam itu yang membuat banyak orang--termasuk saya--sesenggukan. Bukan pula tawaran pahala yang dijanjikan bila salat di Raudah--wilayah antara makam Nabi dan mimbar khutbah di Masjid Nabawi--yang membuat tubuh ini lunglai. Tapi, bayangan betapa sederhananya rumah Nabi itulah mata kami sembab.
Makam itu persis ada di rumah Nabi dulu. Rumah yang mungil. Bahkan, rumah tipe 21 pun masih lebih luas dari rumah Nabi. Ukurannya mungkin sama dengan rumah-rumah petak yang ada di Jakarta. Rumah itu kini masuk dalam bagian Masjid Nabawi dan hanya ditutup ukiran kayu. Di dalam rumah itu ada makam Nabi, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Nabi yang diagungkan itu--bahkan para malaikat pun tak henti membaca shalawat untuknya--ternyata hidup jauh dari standar sederhana. Tak ada AC atau penghangat saat angin dingin membekukan Madinah. Tak ada kasur empuk atau spring bed. Tak ada sofa mewah atau kursi ukiran yang melingkar-lingkar. Tak ada kemewahan seperti yang ditawarkan Electrolux, King Koil, Panasonic, Avanza, atawa Lexus. Juga tak ada keindahan seperti yang disodorkan Dolce & Gabbana, Gucci.
Umar pernah minta izin menemui Nabi SAW. Ia melihat beliau sedang berbaring di atas tikar kasar terbuat dari pelepah Tamar. Sebagian tubuh Nabi tampak berada di atas tanah. Dia juga cuma berbantalkan pelepah kurma. Umar pun menangis.
"Mengapa engkau menangis?" Nabi bertanya. Umar menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini membuat bekas pada tubuhmu. Engkau ini Nabi Allah dan kekasihNya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar lainnya duduk di singgasana emas dan bantalnya sutera".
Mungkin ingatan cerita ini membuat tubuh saya dan orang-orang di sekitar saya menggigil dan menangis. Teringat garis-garis bekas pelepah di pipi Nabi. Lalu melayang lagi percakapan Nabi dan Umar.
Nabi pun menasehati Umar, "Mereka (kaisar dan orang kaya) telah menyegerakan kesenangannya. Itu akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan yang nantinya kita pakai untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia adalah seperti orang yang bepergian pada musim panas. Sejenak berlindung di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya. "
Kata Nabi lagi, sisakan kesenangan di dunia ini untuk bekal akherat. Dalam sepekan, tahanlah nafsu, lapar dan haus, paling tidak dua hari. Lakukan shaum senin-kamis. Dua puluh empat jam sehari, sisakan waktu satu-dua jam untuk sholat fardlu dan membaca al-Qur'an. Delapan jam waktu tidur, buanglah barang 15 menit saja untuk sholat tahajud.
"Celupkan tanganmu ke dalam lautan," ujar Nabi Saw ketika sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat. "Air yang menempel di jarimu itulah dunia. Sisanya adalah akherat".
Bayangan cerita itu semakin membuat kami ini tak sanggup mengangkat kepala dari sujud di depan makam Nabi. Duh Gusti, ampuni kami.
Agar Tak Buntung Saat Menukar Rupiah ke Riyal

Informasi ini dapat dipakai oleh jama'ah haji tahun depan, karena jama'ah tahun ini sudah di tanah suci, bahkan saat ini mereka sudah mempersiapkan wuquf di Arafah.
Selasa, 27 Oktober 2009 | 16:57 WIB, TEMPO Interaktif, Jakarta: Menukar uang untuk bekal pergi haji ke Arab Saudi itu gampang-gampang susah. Kalau tak hati-hati bisa-bisa kita terbentur pada harga Riyal yang mahal. Saat ini normalnya, satu Riyal setara dengan Rp 2.540. Namun, saat musim haji seperti sekarang ini di money-changer biasanya mencapai satu Riyal = Rp 2.700 atau bahkan Rp 3.000. Bagaimana agar kita mendapatkan kurs Riyal yang murah?
1. Usahakan tukar tidak dekat musim haji. Semakin dekat musim haji, maka akan semakin mahal kurs Riyal
2. Kalau terpaksa menukar di musim haji, tukarlah Rupiah di Indonesia, bukan di Arab Saudi. Di Arab harga satu riyal bisa setara dengan Rp 3.000 sampai Rp 3.300. Di Tanah Suci biasanya kursnya lebih mahal kecuali kita bisa menukar ke sesama jemahaan haji dengan "harga pertemanan."
3. Hindari menukar uang di embarkasi atau di bandara keberangkatan. Kurs satu Riyal biasanya sudah mulai tinggi sekitar Rp 2.700 hingga Rp 3.000 bahkan bisa lebih.
4. Lebih baik menukar di money changer besar, bukan agen di jalan-jalan.
5. Beberapa jemaah haji yang pintar mereka menukar rupiah dengan pergi ke bandara Soekarno Hatta di Terminal kedatangan TKI. "Di sana kursnya dua bulan sebelum haji bisa murah, hingga Rp 2.500," kata seorang jemaah haji.
6. Bila terpaksa menukar Rupiah di Tanah Suci, akan lebih murah bila kita menukar dengan sesama jemaah haji yang sudah akan pulang ke Indonesia. Mereka biasanya akan banting harga karena berpikir lebih baik bawa pulang rupiah ketimbang Riyal.
Selamat berburu Riyal.BS
SMP Terbuka ?
Radar Madiun
Sabtu, 17 Oktober 2009
Melongok SMP Terbuka di Sidomukti, Plaosan, yang Digagas Sutikno Sang Kades
"Saya Tidak Ingin Anak-Anak Hanya Tamat SD"
Anak adalah masa depan orang tua. Karenanya, bekal terpenting adalah pendidikan yang layak. Di Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan, Magetan, ada SMP Terbuka untuk menampung siswa dari keluarga kurang mampu. Sutikno, sang kades, adalah sosok berjasa di lembaga itu?
M. ARIF WIDIYANTO, Magetan
PENGGALAN syair lagu ''Garuda di Dadaku'' dinyanyikan dengan lantang oleh Yudi Kurniawan. Sesekali, temannya menyahut bait demi bait tembang yang dipopulerkan grup band Netral tersebut. ''Garuda di dadaku... Garuda kebanggaanku. Ku yakin hari ini pasti menang... Kobarkan semangatmu... Tunjukkan sportivitasmu... Ku yakin hari ini pasti menang,'' ucap Yudi dari lobi lantai dua balai desa Sidomukti, Plaosan, Magetan, Kamis siang (8/10).
Lagu yang menjadi soundtrack film ''Garuda di Dadaku'' itu seakan menjadi pelecut Yudi, Nanang, Dwi Ayu Kurnia, Dwi Yuliati bersama empat temannya yang sekolah di SMP Terbuka, Desa Sidomukti. Meski belum pernah melihat film yang mengisahkan perjuangan bocah yang menembus Timnas PSSI, kedelapan anak desa di lereng selatan Gunung Lawu itu termotivasi merenda masa depan dari bangku SMP Terbuka. ''Senang akhirnya bisa terus sekolah. Apalagi, di sini sekolahnya gratis,'' tutur Yudi, siswa kelas VII SMP Terbuka sembari membuka-buka buku catatan pelajaran IPS untuk melihat pekerjaan rumah yang ditugaskan sang guru.
Sebelum masuk SMP Terbuka, Yudi sebenarnya ingin melanjutkan ke SMP Negeri 2 Plaosan. Lantaran orang tuanya kurang mampu, niatan anak kedua dari tiga bersaudara itu pupus. Namun, asa Yudi membuncah setelah mendengar di desanya akan dibuka sekolah lanjutan tingkat pertama. Semangatnya kembali menyembul tatkala ayahnya diundang pemerintah desa untuk sosialisasi program SMP Terbuka. ''Meski temannya sedikit, sekolah di sini (SMP Terbuka, Red) sama saja seperti di SMP negeri. Gurunya juga enak-enak,'' imbuh Dwi Ayu Kurnia, teman Yudi sambil membetulkan letak kaos kaki putih yang berlabel SMP Negeri 1 Plaosan, sekolah induk SMP tersebut.
Dwi Kurnia adalah putri Mariyem, seorang ibu rumah tangga dengan penghasilan pas-pasan dari buruh menganyam caping. Dari pekerjaan yang diorder tetangganya tersebut, dia membawa pulang uang sekitar Rp 300 ribu tiap bulan. Sedangkan suami merantau ke luar Jawa. ''Kalau tidak ada SMP Terbuka, saya tidak bisa meneruskan sekolah. Karena ibu tidak ada biaya,'' aku Dwi lirih.
Bagi Mariyem, dibukanya SMP Terbuka di desanya adalah kabar menggembirakan. Sejak diberitahu perangkat desa Sidomukti, perempuan paro baya itu bersemangat mengikuti sosialisasi, Juni 2009 silam. ''Alhamdulillah mas. Dwi akhirnya bisa meneruskan ke SMP. Kalau tidak ada sekolah ini, mungkin ya hanya tamat SD saja,'' kata Mariyem dengan mata berbinar saat didatangi koran ini bersama Jono, guru SMP Negeri 1 Plaosan sekaligus penanggung jawab sehari-hari SMP Terbuka.
Mariyem mengaku terbantu dengan sekolah khusus tersebut. Dengan penghasilan minim, dia tidak bisa berpikir biayanya darimana jika anaknya masuk sekolah reguler.
Jika Dwi masuk sekolah umum, tentu, dia akan disibukkan dengan urusan pembayaran uang gedung, dana seragam dan alat tulis yang harus disediakan saat tahun ajaran baru. Belum lagi biaya Dwi sehari-hari, misalnya, uang saku.
Pendirian SMP Terbuka tak lepas dari peran Kepala Desa Sidomukti, Sutikno. Gagasan itu, muncul setelah bertandang ke rumah koleganya, Jono, guru SMP Negeri 1 Plaosan. Sore itu, di rumah Jono ada beberapa anak yang sedang belajar bersama.
Sutikno yang mantan guru lantas bertanya perihal apa yang dilakukan anak-anak putus sekolah tersebut. ''Jawabannya membuat saya agak terkejut. Kata Pak Jono, anak-anak itu sedang dikarantina menghadapi ujian nasional. Mereka ini dari sekolah terbuka yang menginduk ke SMP 1 Plaosan,'' cerita pak lurah.
Kades yang pernah menyabet perhargaan pemerintahan desa tingkat nasional itu, lantas bertanya panjang lebar kepada Jono. Dia juga berkonsultasi kepada Kepala SMP Negeri 1 Plaosan, Retno Purwaningsih. Dia bahkan mencari informasi ke Dinas Pendidikan Magetan soal SMP Terbuka. ''Tiap hari saya terus memikirkan rencana mendirikan SMP Terbuka. Karena, saya tidak ingin anak-anak Sidomukti, terutama dari keluarga beruntung ini, pendidikannya hanya tamatan SD,'' papar Sutikno.
Sebagai kepala desa, Sutikno juga merasa harus bertanggung jawab ikut menyukseskan program wajib belajar 12 tahun. ''Kalau inisiatif tidak datang dari pemerintahan desa, siapa lagi. Dari situlah, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya dan teman-teman perangkat desa sepakat membuka kelas SMP Terbuka di sini (Sidomukti, Red),'' terang dia.
Ide tersebut gayung bersambut. SMP Negeri 1 Plaosan melihat ada motivasi kuat terkait rencana mendirikan sekolah terbuka di Sidomukti. Sinyal hijau ini ditangkap oleh pemerintahan desa dengan melakukan pendataan siswa kelas VI SD Sidomukti.
Dari data yang diambil jauh sebelum kelulusan tahun ajaran 2008/2009 lalu, didapat sejumlah anak dari keluarga miskin (gakin). ''SMP Terbuka ini memang diprioritaskan kepada anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu,'' tuturnya
Pendekatan pun dilakukan. Tercatat, di awal pendataan, ada 15 anak yang tersaring. Mereka lantas diundang ke balai desa untuk diberikan pemahaman. ''Tapi, di tengah perjalanan, tinggal sembilan anak yang mendaftar. Ada pihak-pihak yang kontra dengan langkah kami ini,'' jelas Sutikno.
Cibiran tersebut dianggap Sutikno dkk sebagai hal yang lumrah. Sebab, SMP Terbuka adalah wacana baru bagi masyarakat pedesaan seperti Sidomukti ini. ''Ada yang mengatakan sekolahnya tidak legitimasi. Terus, ada yang ngomong nanti setelah lulus akan telantar dan ijazahnya tidak diakui,'' papar dia.
Meski ada yang mencibir, proyek sosial ini pun berlanjut. Bagi keluarga kurang mampu yang tertarik terus dimotivasi. Sedangkan, yang terpengaruh oleh gesekan orang yang tidak suka ditinggal. Pihak desa menyulap satu ruangan di lantai dua kantor desa setempat untuk kegiatan belajar mengajar. Sutikno juga menyediakan bangku dan kursi serta papan tulis untuk generasi penerus Desa Sidomukti.
''Setiap niat mulia pasti ada jalan. Dan sungguh ironis kalau anak-anak saya ini hanya tamat SD. Apalagi persaingan di masa mendatang sangat berat dan kejam. Mereka harus bisa sekolah SMP dan hingga SMA,'' jelas Sutikno.
Akhirnya, jerih payah Sutikno dan perangkat desa terealisasi. Pada tahun ajaran 2009/2010, secara resmi SMP Terbuka memulai kegiatan belajar mengajar dengan murid berjumlah delapan anak.
Saat tahun ajaran baru, kedelapan pelajar ini juga ikut MOS (masa orientasi sekolah) di SMPN 1 Plaosan. Yudi, Nanang, Dwi Ayu dan kawan-kawan juga ikut kegiatan Persami (perkemahan Sabtu-Minggu) serta kegiatan ekstrakurikuler lain di sekolah induk. ''KBM-nya masuk siang dan full satu minggu. Mulai Senin hingga Jumat. Khusus hari Sabtu, anak-anak kami bawa ke SMP 1 untuk pelajaran ekstrakurikuler. Dengan begitu, mereka tidak merasa asing atau terkucilkan. Mereka juga tetap memiliki teman,'' ujar kepala SMP Negeri 1 Plaosan, Retno Purwaningsih.
Menurutnya, program KBM di SMP Terbuka ini tidak sama dengan sekolah reguler. Anak-anak tersebut lebih difokuskan pada materi pelajaran Ujian Nasional (Unas). Yakni, bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris dan IPS. ''Untuk menambah skill, mereka ikut ekstrakurikuler. Setiap ada kegiatan di sekolah induk, mereka juga selalu dilibatkan,'' jelar Retno.
Di awal pendirian SMP Terbuka ini, Retno dan guru di SMP Negeri 1 Plaosan sempat ragu. Namun, melihat kegigihan kepala desa dan perangkat Sidomukti, pihaknya tidak bisa menolak gagasan mulia tersebut. ''Apalagi setelah KBM berjalan, kami selaku sekolah pembimbing melihat ada motivasi kuat pada diri anak dan pihak desa. Beda dengan sekolah terbuka lain yang kami tangani. Kami juga bersemangat mengelola sekolah ini,'' jelas dia.
Dalam proyek sosial ini, Retno memilih guru yang memiliki keinginan dan kepedulian kuat untuk membagikan ilmunya kepada anak-anak dari keluarga kurang beruntung itu. ''Kami tidak tega untuk menelantarkan mereka. Ini proyek akhirat bagi kami,'' terangnya.
Meski tidak digaji tambahan, para guru juga merasa enjoy memberikan ilmunya kepada Yudi, Nanang, Dwi dkk. Apalagi, melihat semangat kedelapan siswa SMP Terbuka yang dari hari ke hari tetap menyala. ''Selama ini, operasional sekolah ini dari dana BOS (bantuan operasional sekolah). Di luar itu tidak ada.''
Mulai bulan depan, kepala desa Sidomukti, Sutikno akan membuatkan buku tabungan bagi siswa dan orang tuanya. Buku tersebut harus diisi dana minimal Rp 50 ribu tiap bulannya. Selama tiga tahun, diperkirakan akan terkumpul dana sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. ''Itu bukan iuran atau untuk biaya di SMP Terbuka. Tabungan tersebut kelak akan digunakan biaya masuk SMA. Karena, cita-cita saya, anak-anak ini harus lulus SMA atau sederajat,'' kata Sutikno.
Bagi Yudi, Nanang, Dwi dkk, bersekolah di SMP Terbuka membuat masa depannya tersingkap. Yudi bahkan sudah memantapkan hati untuk menamatkan pendidikannya di sekolah yang dirintis oleh Sutikno. ''Saya ingin meneruskan ke SMA. Kalau bisa sampai kuliah,'' asa Yudi yang bercita-cita menjadi insinyur pertanian. ***(irw)
Pesan Warga Banaran
Profile Desa Banaran
- Desa Banaran
- Madiun, Jawa Timur, Indonesia
- Banaran adalah sebuah desa di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Secara geografi sebelah utara dan timur berbatasan dengan desa Klorogan Kecamatan Geger, sebelah selatan dan tenggara desa Bangunsari Kecamatan Dolopo dan sebelah barat desa Singgahan Kecamatan Kebonsari. Dulu ketika kita menyebut Banaran, maka orang akan mengira Banaran yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Ngawi Jatim dengan Kabupaten Sragen Jateng (sekitar Mantingan). Bagi yang sering bepergian Yogyakarta-Semarang, maka antara Magelang-Semarang ada coffee terkenal milik PTPN dengan nama Banaran Coffee. Sekarang mungkin sudah berubah seiring dengan berkembangnya masyarakat dan desa Banaran.