
Rumah paling utara di desa Banaran adalah rumah almarhum Pak Hasyim dan sekarang dikontrak oleh Pak Djiono yang dipakai sebagai Toko Material. Lokasinya berbatasan dengan desa Klorogan dan terletak di sebelah utara kanal. Harga material di toko ini relatif lebih murah, apalagi kalau membeli keramik, beberapa orang mengatakan bisa lebih murah daripada toko Keramik di Madiun kota. Silahkan coba !.
Waktu / Jam
Hari & Tanggal
Pesan Warga Banaran
Penerjemah 12 bahasa
Daftar Isi :
- Administrator Blog Desa Banaran (1)
- Afrika Selatan Menjelang WC-2010 (1)
- Ahmadi mewakili Kelompok Tani (1)
- Amaliah Gus Dur (1)
- Anggaran Pilkades (2)
- Bakar Jagung di Hongkong (1)
- Bersepeda dengan KH Qosim (1)
- Bill Gates dan Xerox (1)
- Bintang Baru Mart (1)
- dan Menteri (1)
- Demo di Hongkong (1)
- Demokrasi mahal ? (1)
- Denmark (1)
- Foto di dalam Ka'bah (1)
- Foto DN dan LN (1)
- HBH WBC (1)
- Hikmah membaca Al-Qur'an (1)
- Instalasi Biogas (1)
- Ir. Sukarji (1)
- Jadwal Piala Dunia 2010 (1)
- JAHE - Tanaman Obat (1)
- Kades Banaran 1975-1990 (1)
- Kecintaan Ukasyah kepada Rasulullah SAW (1)
- Kelompok Tani Mardi Mulyo (1)
- Khittah Ekonomi Kerakyatan NU (1)
- Kiyai Gaul (1)
- Kyai Sahal Mahfudh dan Gus Mus Hadiri Ta'aruf PBNU (1)
- Lomba Desa (1)
- Masjid Nabawi (1)
- Masjid Pertama akan Dibangun di Copenhagen (1)
- Menukar Rupiyah dengan Riyal (1)
- MM (1)
- Para Kades/Lurah Banaran (1)
- Pertanian (1)
- Pertanian sebagai Landasan Ekonomi (1)
- Pesan Gus Dur (1)
- Pilkades Banaran (1)
- Poligami Rasulullah (1) (1)
- Poligami Rasulullah (2) (1)
- Pramex dan MJ (1)
- Presiden (1)
- Rumah Nabi (1)
- Rumah Paling Utara (1)
- Seragam Panitia (1)
- SMP Terbuka (1)
- SP2010 (1)
- UU Lalin 22/2009 (1)
- Wapres (1)
Rumah Paling Utara
Ada apa di dalam Ka'bah
Jangankan untuk masuk ke dalam Ka'bah, untuk mencium hajar aswad saja sangat sulit, memerlukan kesabaran dan perjuangan mental dan phisik. Untuk ibu2 disarankan melihat dari jauh saja, karena sangat berat dan resikonya malah berdosa. Misalnya saya pernah melihat seorang ibu nekad sampai terlepas jilbabnya juga sebagian mukenanya, ini sama dengan membuka aurat di depan ka'bah, berdosa !, na'udzubillahi min dzalik.
Subhanalloh walhamdulillah, saya mendapat sebuah foto di dalam ka'bah dari seorang teman (foto di atas). Untuk masuk ka'bah adalah suatu mission impossible. Keluarga Presiden Suharto pernah diijinkan oleh Raja Fath masuk ka'bah. Kalau kita cukuplah melihat fotonya.... (kiriman : Purwanto)
Rumah Petak Milik Nabi

Kamis, 19 November 2009 | 13:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Bersujud di depan makam Nabi Muhammad SAW rasanya seperti tersedot magnet raksasa. Ada rasa haru yang mengiris-iris. Bukan kesakralan makam itu yang membuat banyak orang--termasuk saya--sesenggukan. Bukan pula tawaran pahala yang dijanjikan bila salat di Raudah--wilayah antara makam Nabi dan mimbar khutbah di Masjid Nabawi--yang membuat tubuh ini lunglai. Tapi, bayangan betapa sederhananya rumah Nabi itulah mata kami sembab.
Makam itu persis ada di rumah Nabi dulu. Rumah yang mungil. Bahkan, rumah tipe 21 pun masih lebih luas dari rumah Nabi. Ukurannya mungkin sama dengan rumah-rumah petak yang ada di Jakarta. Rumah itu kini masuk dalam bagian Masjid Nabawi dan hanya ditutup ukiran kayu. Di dalam rumah itu ada makam Nabi, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Nabi yang diagungkan itu--bahkan para malaikat pun tak henti membaca shalawat untuknya--ternyata hidup jauh dari standar sederhana. Tak ada AC atau penghangat saat angin dingin membekukan Madinah. Tak ada kasur empuk atau spring bed. Tak ada sofa mewah atau kursi ukiran yang melingkar-lingkar. Tak ada kemewahan seperti yang ditawarkan Electrolux, King Koil, Panasonic, Avanza, atawa Lexus. Juga tak ada keindahan seperti yang disodorkan Dolce & Gabbana, Gucci.
Umar pernah minta izin menemui Nabi SAW. Ia melihat beliau sedang berbaring di atas tikar kasar terbuat dari pelepah Tamar. Sebagian tubuh Nabi tampak berada di atas tanah. Dia juga cuma berbantalkan pelepah kurma. Umar pun menangis.
"Mengapa engkau menangis?" Nabi bertanya. Umar menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini membuat bekas pada tubuhmu. Engkau ini Nabi Allah dan kekasihNya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar lainnya duduk di singgasana emas dan bantalnya sutera".
Mungkin ingatan cerita ini membuat tubuh saya dan orang-orang di sekitar saya menggigil dan menangis. Teringat garis-garis bekas pelepah di pipi Nabi. Lalu melayang lagi percakapan Nabi dan Umar.
Nabi pun menasehati Umar, "Mereka (kaisar dan orang kaya) telah menyegerakan kesenangannya. Itu akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan yang nantinya kita pakai untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia adalah seperti orang yang bepergian pada musim panas. Sejenak berlindung di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya. "
Kata Nabi lagi, sisakan kesenangan di dunia ini untuk bekal akherat. Dalam sepekan, tahanlah nafsu, lapar dan haus, paling tidak dua hari. Lakukan shaum senin-kamis. Dua puluh empat jam sehari, sisakan waktu satu-dua jam untuk sholat fardlu dan membaca al-Qur'an. Delapan jam waktu tidur, buanglah barang 15 menit saja untuk sholat tahajud.
"Celupkan tanganmu ke dalam lautan," ujar Nabi Saw ketika sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat. "Air yang menempel di jarimu itulah dunia. Sisanya adalah akherat".
Bayangan cerita itu semakin membuat kami ini tak sanggup mengangkat kepala dari sujud di depan makam Nabi. Duh Gusti, ampuni kami.
Agar Tak Buntung Saat Menukar Rupiah ke Riyal

Informasi ini dapat dipakai oleh jama'ah haji tahun depan, karena jama'ah tahun ini sudah di tanah suci, bahkan saat ini mereka sudah mempersiapkan wuquf di Arafah.
Selasa, 27 Oktober 2009 | 16:57 WIB, TEMPO Interaktif, Jakarta: Menukar uang untuk bekal pergi haji ke Arab Saudi itu gampang-gampang susah. Kalau tak hati-hati bisa-bisa kita terbentur pada harga Riyal yang mahal. Saat ini normalnya, satu Riyal setara dengan Rp 2.540. Namun, saat musim haji seperti sekarang ini di money-changer biasanya mencapai satu Riyal = Rp 2.700 atau bahkan Rp 3.000. Bagaimana agar kita mendapatkan kurs Riyal yang murah?
1. Usahakan tukar tidak dekat musim haji. Semakin dekat musim haji, maka akan semakin mahal kurs Riyal
2. Kalau terpaksa menukar di musim haji, tukarlah Rupiah di Indonesia, bukan di Arab Saudi. Di Arab harga satu riyal bisa setara dengan Rp 3.000 sampai Rp 3.300. Di Tanah Suci biasanya kursnya lebih mahal kecuali kita bisa menukar ke sesama jemahaan haji dengan "harga pertemanan."
3. Hindari menukar uang di embarkasi atau di bandara keberangkatan. Kurs satu Riyal biasanya sudah mulai tinggi sekitar Rp 2.700 hingga Rp 3.000 bahkan bisa lebih.
4. Lebih baik menukar di money changer besar, bukan agen di jalan-jalan.
5. Beberapa jemaah haji yang pintar mereka menukar rupiah dengan pergi ke bandara Soekarno Hatta di Terminal kedatangan TKI. "Di sana kursnya dua bulan sebelum haji bisa murah, hingga Rp 2.500," kata seorang jemaah haji.
6. Bila terpaksa menukar Rupiah di Tanah Suci, akan lebih murah bila kita menukar dengan sesama jemaah haji yang sudah akan pulang ke Indonesia. Mereka biasanya akan banting harga karena berpikir lebih baik bawa pulang rupiah ketimbang Riyal.
Selamat berburu Riyal.BS
SMP Terbuka ?
Radar Madiun
Sabtu, 17 Oktober 2009
Melongok SMP Terbuka di Sidomukti, Plaosan, yang Digagas Sutikno Sang Kades
"Saya Tidak Ingin Anak-Anak Hanya Tamat SD"
Anak adalah masa depan orang tua. Karenanya, bekal terpenting adalah pendidikan yang layak. Di Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan, Magetan, ada SMP Terbuka untuk menampung siswa dari keluarga kurang mampu. Sutikno, sang kades, adalah sosok berjasa di lembaga itu?
M. ARIF WIDIYANTO, Magetan
PENGGALAN syair lagu ''Garuda di Dadaku'' dinyanyikan dengan lantang oleh Yudi Kurniawan. Sesekali, temannya menyahut bait demi bait tembang yang dipopulerkan grup band Netral tersebut. ''Garuda di dadaku... Garuda kebanggaanku. Ku yakin hari ini pasti menang... Kobarkan semangatmu... Tunjukkan sportivitasmu... Ku yakin hari ini pasti menang,'' ucap Yudi dari lobi lantai dua balai desa Sidomukti, Plaosan, Magetan, Kamis siang (8/10).
Lagu yang menjadi soundtrack film ''Garuda di Dadaku'' itu seakan menjadi pelecut Yudi, Nanang, Dwi Ayu Kurnia, Dwi Yuliati bersama empat temannya yang sekolah di SMP Terbuka, Desa Sidomukti. Meski belum pernah melihat film yang mengisahkan perjuangan bocah yang menembus Timnas PSSI, kedelapan anak desa di lereng selatan Gunung Lawu itu termotivasi merenda masa depan dari bangku SMP Terbuka. ''Senang akhirnya bisa terus sekolah. Apalagi, di sini sekolahnya gratis,'' tutur Yudi, siswa kelas VII SMP Terbuka sembari membuka-buka buku catatan pelajaran IPS untuk melihat pekerjaan rumah yang ditugaskan sang guru.
Sebelum masuk SMP Terbuka, Yudi sebenarnya ingin melanjutkan ke SMP Negeri 2 Plaosan. Lantaran orang tuanya kurang mampu, niatan anak kedua dari tiga bersaudara itu pupus. Namun, asa Yudi membuncah setelah mendengar di desanya akan dibuka sekolah lanjutan tingkat pertama. Semangatnya kembali menyembul tatkala ayahnya diundang pemerintah desa untuk sosialisasi program SMP Terbuka. ''Meski temannya sedikit, sekolah di sini (SMP Terbuka, Red) sama saja seperti di SMP negeri. Gurunya juga enak-enak,'' imbuh Dwi Ayu Kurnia, teman Yudi sambil membetulkan letak kaos kaki putih yang berlabel SMP Negeri 1 Plaosan, sekolah induk SMP tersebut.
Dwi Kurnia adalah putri Mariyem, seorang ibu rumah tangga dengan penghasilan pas-pasan dari buruh menganyam caping. Dari pekerjaan yang diorder tetangganya tersebut, dia membawa pulang uang sekitar Rp 300 ribu tiap bulan. Sedangkan suami merantau ke luar Jawa. ''Kalau tidak ada SMP Terbuka, saya tidak bisa meneruskan sekolah. Karena ibu tidak ada biaya,'' aku Dwi lirih.
Bagi Mariyem, dibukanya SMP Terbuka di desanya adalah kabar menggembirakan. Sejak diberitahu perangkat desa Sidomukti, perempuan paro baya itu bersemangat mengikuti sosialisasi, Juni 2009 silam. ''Alhamdulillah mas. Dwi akhirnya bisa meneruskan ke SMP. Kalau tidak ada sekolah ini, mungkin ya hanya tamat SD saja,'' kata Mariyem dengan mata berbinar saat didatangi koran ini bersama Jono, guru SMP Negeri 1 Plaosan sekaligus penanggung jawab sehari-hari SMP Terbuka.
Mariyem mengaku terbantu dengan sekolah khusus tersebut. Dengan penghasilan minim, dia tidak bisa berpikir biayanya darimana jika anaknya masuk sekolah reguler.
Jika Dwi masuk sekolah umum, tentu, dia akan disibukkan dengan urusan pembayaran uang gedung, dana seragam dan alat tulis yang harus disediakan saat tahun ajaran baru. Belum lagi biaya Dwi sehari-hari, misalnya, uang saku.
Pendirian SMP Terbuka tak lepas dari peran Kepala Desa Sidomukti, Sutikno. Gagasan itu, muncul setelah bertandang ke rumah koleganya, Jono, guru SMP Negeri 1 Plaosan. Sore itu, di rumah Jono ada beberapa anak yang sedang belajar bersama.
Sutikno yang mantan guru lantas bertanya perihal apa yang dilakukan anak-anak putus sekolah tersebut. ''Jawabannya membuat saya agak terkejut. Kata Pak Jono, anak-anak itu sedang dikarantina menghadapi ujian nasional. Mereka ini dari sekolah terbuka yang menginduk ke SMP 1 Plaosan,'' cerita pak lurah.
Kades yang pernah menyabet perhargaan pemerintahan desa tingkat nasional itu, lantas bertanya panjang lebar kepada Jono. Dia juga berkonsultasi kepada Kepala SMP Negeri 1 Plaosan, Retno Purwaningsih. Dia bahkan mencari informasi ke Dinas Pendidikan Magetan soal SMP Terbuka. ''Tiap hari saya terus memikirkan rencana mendirikan SMP Terbuka. Karena, saya tidak ingin anak-anak Sidomukti, terutama dari keluarga beruntung ini, pendidikannya hanya tamatan SD,'' papar Sutikno.
Sebagai kepala desa, Sutikno juga merasa harus bertanggung jawab ikut menyukseskan program wajib belajar 12 tahun. ''Kalau inisiatif tidak datang dari pemerintahan desa, siapa lagi. Dari situlah, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya dan teman-teman perangkat desa sepakat membuka kelas SMP Terbuka di sini (Sidomukti, Red),'' terang dia.
Ide tersebut gayung bersambut. SMP Negeri 1 Plaosan melihat ada motivasi kuat terkait rencana mendirikan sekolah terbuka di Sidomukti. Sinyal hijau ini ditangkap oleh pemerintahan desa dengan melakukan pendataan siswa kelas VI SD Sidomukti.
Dari data yang diambil jauh sebelum kelulusan tahun ajaran 2008/2009 lalu, didapat sejumlah anak dari keluarga miskin (gakin). ''SMP Terbuka ini memang diprioritaskan kepada anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu,'' tuturnya
Pendekatan pun dilakukan. Tercatat, di awal pendataan, ada 15 anak yang tersaring. Mereka lantas diundang ke balai desa untuk diberikan pemahaman. ''Tapi, di tengah perjalanan, tinggal sembilan anak yang mendaftar. Ada pihak-pihak yang kontra dengan langkah kami ini,'' jelas Sutikno.
Cibiran tersebut dianggap Sutikno dkk sebagai hal yang lumrah. Sebab, SMP Terbuka adalah wacana baru bagi masyarakat pedesaan seperti Sidomukti ini. ''Ada yang mengatakan sekolahnya tidak legitimasi. Terus, ada yang ngomong nanti setelah lulus akan telantar dan ijazahnya tidak diakui,'' papar dia.
Meski ada yang mencibir, proyek sosial ini pun berlanjut. Bagi keluarga kurang mampu yang tertarik terus dimotivasi. Sedangkan, yang terpengaruh oleh gesekan orang yang tidak suka ditinggal. Pihak desa menyulap satu ruangan di lantai dua kantor desa setempat untuk kegiatan belajar mengajar. Sutikno juga menyediakan bangku dan kursi serta papan tulis untuk generasi penerus Desa Sidomukti.
''Setiap niat mulia pasti ada jalan. Dan sungguh ironis kalau anak-anak saya ini hanya tamat SD. Apalagi persaingan di masa mendatang sangat berat dan kejam. Mereka harus bisa sekolah SMP dan hingga SMA,'' jelas Sutikno.
Akhirnya, jerih payah Sutikno dan perangkat desa terealisasi. Pada tahun ajaran 2009/2010, secara resmi SMP Terbuka memulai kegiatan belajar mengajar dengan murid berjumlah delapan anak.
Saat tahun ajaran baru, kedelapan pelajar ini juga ikut MOS (masa orientasi sekolah) di SMPN 1 Plaosan. Yudi, Nanang, Dwi Ayu dan kawan-kawan juga ikut kegiatan Persami (perkemahan Sabtu-Minggu) serta kegiatan ekstrakurikuler lain di sekolah induk. ''KBM-nya masuk siang dan full satu minggu. Mulai Senin hingga Jumat. Khusus hari Sabtu, anak-anak kami bawa ke SMP 1 untuk pelajaran ekstrakurikuler. Dengan begitu, mereka tidak merasa asing atau terkucilkan. Mereka juga tetap memiliki teman,'' ujar kepala SMP Negeri 1 Plaosan, Retno Purwaningsih.
Menurutnya, program KBM di SMP Terbuka ini tidak sama dengan sekolah reguler. Anak-anak tersebut lebih difokuskan pada materi pelajaran Ujian Nasional (Unas). Yakni, bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris dan IPS. ''Untuk menambah skill, mereka ikut ekstrakurikuler. Setiap ada kegiatan di sekolah induk, mereka juga selalu dilibatkan,'' jelar Retno.
Di awal pendirian SMP Terbuka ini, Retno dan guru di SMP Negeri 1 Plaosan sempat ragu. Namun, melihat kegigihan kepala desa dan perangkat Sidomukti, pihaknya tidak bisa menolak gagasan mulia tersebut. ''Apalagi setelah KBM berjalan, kami selaku sekolah pembimbing melihat ada motivasi kuat pada diri anak dan pihak desa. Beda dengan sekolah terbuka lain yang kami tangani. Kami juga bersemangat mengelola sekolah ini,'' jelas dia.
Dalam proyek sosial ini, Retno memilih guru yang memiliki keinginan dan kepedulian kuat untuk membagikan ilmunya kepada anak-anak dari keluarga kurang beruntung itu. ''Kami tidak tega untuk menelantarkan mereka. Ini proyek akhirat bagi kami,'' terangnya.
Meski tidak digaji tambahan, para guru juga merasa enjoy memberikan ilmunya kepada Yudi, Nanang, Dwi dkk. Apalagi, melihat semangat kedelapan siswa SMP Terbuka yang dari hari ke hari tetap menyala. ''Selama ini, operasional sekolah ini dari dana BOS (bantuan operasional sekolah). Di luar itu tidak ada.''
Mulai bulan depan, kepala desa Sidomukti, Sutikno akan membuatkan buku tabungan bagi siswa dan orang tuanya. Buku tersebut harus diisi dana minimal Rp 50 ribu tiap bulannya. Selama tiga tahun, diperkirakan akan terkumpul dana sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. ''Itu bukan iuran atau untuk biaya di SMP Terbuka. Tabungan tersebut kelak akan digunakan biaya masuk SMA. Karena, cita-cita saya, anak-anak ini harus lulus SMA atau sederajat,'' kata Sutikno.
Bagi Yudi, Nanang, Dwi dkk, bersekolah di SMP Terbuka membuat masa depannya tersingkap. Yudi bahkan sudah memantapkan hati untuk menamatkan pendidikannya di sekolah yang dirintis oleh Sutikno. ''Saya ingin meneruskan ke SMA. Kalau bisa sampai kuliah,'' asa Yudi yang bercita-cita menjadi insinyur pertanian. ***(irw)
Wong Banaran jadi Rektor

Sekarang ini mungkin kita sudah biasa mendengar Wong Banaran jadi pegawai negeri sipil, pegawai BUMN, atau pegawai swasta. Semua wong Banaran juga tahu, tetapi mungkin belum banyak yang tahu bahwa ada Wong Banaran yang jadi Rektor. Dia adalah Ir. Sukarji, MM, Rektor/Direktur Politeknik LPP Yogyakarta, putera almarhum Bapak Sadikun. Kalau generasi sekarang mungkin lebih informatif bahwa dia adalah adik kandung Pak Harno, Sekdes Banaran. Informasi ini semoga dapat memicu semangat untuk lebih maju terutama yang masih di bangku pendidikan /kuliah dan juga bagi siapa saja khususnya Wong Banaran yang sudah punya kebun di luar Jawa bisa menguliahkan anak/cucunya di Politeknik LPP Yogyakarta.
BIODATA
Nama : Ir. Sukarji, MM
TTL : Madiun, 17 Agustus 1963
Alamat Rumah : Perumahan LPP Balapan, Jl Kalisahak 13 Yogyakarta 55222
Tlp/Hp : 0274-542448, 08112508860
Alamat Kantor : Politeknik LPP, Jl. LPP No. 1A Yogyakarta
Tlp Kantor : (0274)586201, 555776. Fax : (0274) 520082, 585274
Pendidikan :
1. S2 Magister Manajemen (Agrobisnis) IPB Bogor lulus 1997
2. S1 Fakultas Pertanian (Agronomi) IPB Bogor lulus 1987
3. SMA Negeri Uteran (Geger) Madiun lulus 1983
4. SMP Negeri I Dolopo lulus 1980
5. SD Negeri I Banaran lulus 1976
Pengalaman Kerja :
1. PT Tani Unggul Sarana, Semarang, 1989-1990
2. LPP (Lembaga Pendidikan Perkebunan) Yogyakarta, 1990-sekarang
Jabatan di LPP :
1. Tenaga Profesional LPP, 1990-sekarang
2. Kepala BLK LPP Ngabang, Kalimantan Barat, 1991-1995
3. Ka Ur Monitoring & Pelaporan LPP Kantor Pusat, 1998-2006
4. Direktur Politeknik LPP, 2006-sekarang
Keluarga :
Isteri : Hariyati
Anak-anak :
1. Karina Damayanti/16 th
2. Sifa Fardhiana/12 th
3. Rizky Adinda Febriyanti/9 th
Hobi : Berkebun dan memelihara hewan piaraan
Moto : Dengan mencintai dan menikmati kehidupan ini di manapun kita berada, maka kedamaian dan kebahagiaan senantiasa akan kita dapatkan.
Presiden dan Wakil Presiden dilantik

SBY-Boediono telah resmi mengemban tugas sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2009-2014. Para Menteri KIB-2 juga telah diumumkan seperti di bawah ini. Salah satu komitmen Presiden pada pidato pelantikannya adalah "meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia". Analogi dengan ini, komitmen Kades Banaran terpilih seharusnya adalah "meningkatkan kesejahteraan warga desa Banaran". Insya Alloh bisa......
MENTERI KOORDINATOR
1. Menko Politik Hukum dan Keamanan : Marsekal (Purn) Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian : Hatta Rajasa
3. Menko Kesra : R Agung Laksono
4. Sekretaris Negara : Sudi Silalahi
MENTERI DEPARTEMEN
1. Menteri Dalam Negeri : Gamawan Fauzi
2. Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa
3. Menteri Pertahanan : Purnomo Yusgiantoro
4. Menteri Hukum dan HAM : Patrialis Akbar
5. Menteri Keuangan : Sri Mulyani
6. Menteri ESDM: Darwin Saleh
7. Menteri Perindustrian : MS Hidayat
8. Menteri Perdagangan : Mari E. Pangestu
9. Menteri Pertanian : Suswono
10. Menteri Kehutanan : Zulkifli Hasan
11. Menteri Perhubungan : Freddy Numberi
12. Menteri Kelautan dan Perikanan : Fadel Muhammad
13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Muhaimin Iskandar
14. Menteri Pekerjaan Umum : Djoko Kirmanto
15. Menteri Kesehatan : Endang Rahayu Sedianingsih
16. Menteri Pendidikan Nasional : Mohammad Nuh
17. Menteri Sosial : Salim Segaf Al Jufri
18. Menteri Agama : Suryadharma Ali
19. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wacik
20. Menteri Komunikasi dan Informasi : Tifatul Sembiring
MENTERI NEGARA
1. Menteri Riset dan Teknologi : Suharna Suryapranata
2. Menteri Koperasi dan UKM : Syarifudin Hasan
3. Menteri Lingkungan Hidup : Gusti Muhammad Hatta
4. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Amalia Sari
5. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : E.E Mangindaan
6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Ahmad Helmy Faishal Zaini
7. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional : Armida Alisjahbana
8. Menteri BUMN : Mustafa Abubakar
9. Menteri Pemuda dan Olahraga : Andi Alfian Mallarangeng
10. Menteri Perumahan Rakyat : Suharso Manoarfa
PEJABAT SETINGKAT MENTERI
1. Kepala BIN: Jenderal (Purn) Sutanto
2. Kepala BKPM: Gita Wirjawan
3. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan Pengedalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto (anw/gah)
Pak Misran Kades Banaran 1975-1990

Beliau memimpin desa Banaran selama 15 tahun (1975-1990). Tetapi beliau masih enerjik meskipun sudah kelihatan guratan di kulit wajahnya. Alhamdulillah saya masih sempat mengabadikan foto beliau sekalian (purwanto)
Matur Suwun Pak Misran, Mbah Musdam, dan Pak Syam

Lagi asyik ngobrol di Balai Desa Banaran dengan Pak Syamsunaji yang sampai sekarang masih menjabat Kepala Desa Banaran sampai dilantik Kepala Desa Banaran terpilih, tiba2 datang Pak Misran (mantan Kades Banaran). Pak Misran habis ketemu dengan Mbah Musdam dan mendapatkan data nama-nama orang-orang penting yang pernah menjadi Lurah/Kepala Desa Banaran (Lihat slide show sebelah kanan tengah).
Hikmah membaca Al-Qur'an
(Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti satupun artinya?)
Kalau kita renungkan, secara logika berfikir manusia bahwa membaca sesuatu tanpa mengerti artinya itu adalah perbuatan yang sia-sia. Tetapi membaca Al-Qur'an tidaklah berlaku cara berfikir seperti itu, karena ternyata membaca Al-Qur'an ada hikmah yang luar biasa meskipun tanpa mengerti artinya. Berikut sebuah cerita yang indah yang dapat memberikan semangat kepada kita untuk membaca Al-Qur'an
Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya.
Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur'An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur'An?
Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di tungku pemanas sambil berkata , " Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air."
Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.
Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.
Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah bolong , maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.
Sang kakek berkata, " Aku tidak mau satu ember air ; aku hanya mau satu keranjang air.
Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.
Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?"
Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya. " Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda.. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. "
Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur'An.. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, didalam dan diluar dirimu. Itu adalah kehendak Alloh terhadap kehidupan kita.
Jika kamu merasa Iinformasi ini patut dibaca, maka sampaikan (langsung/email) ke teman-temanmu. Seperti sabda Nabi Muhammad( SAW) : " Bagi siapa saja yang membawa kebaikan maka akan mendapat ganjaran yang sama "
Pesan Warga Banaran
Profile Desa Banaran
- Desa Banaran
- Madiun, Jawa Timur, Indonesia
- Banaran adalah sebuah desa di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Secara geografi sebelah utara dan timur berbatasan dengan desa Klorogan Kecamatan Geger, sebelah selatan dan tenggara desa Bangunsari Kecamatan Dolopo dan sebelah barat desa Singgahan Kecamatan Kebonsari. Dulu ketika kita menyebut Banaran, maka orang akan mengira Banaran yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Ngawi Jatim dengan Kabupaten Sragen Jateng (sekitar Mantingan). Bagi yang sering bepergian Yogyakarta-Semarang, maka antara Magelang-Semarang ada coffee terkenal milik PTPN dengan nama Banaran Coffee. Sekarang mungkin sudah berubah seiring dengan berkembangnya masyarakat dan desa Banaran.