KH M. Qosim adalah Kiyai Banaran yang setiap hari naik sepeda, ke Madiun, Barat Ngawi, Mililir, dst. Ketika suatu saat ketemu beliau, saya bilang : " Kapan-kapan ngonthel ke Ponorogo Pak Kiyai ". Saya pikir beliau menolak ajakan tersebut, eh ternyata antusias sekali menerima ajakan tersebut, dan saking antusiasnya beliau mau menjemput saya ke Madiun melalui Singgahan, Balerejo, Bacem, Nglandung, Kaibon, Madiun. Tidak enak rasanya kalau sampai beliau menjemput ke Madiun, akhirnya saya putuskan setelah turun dari musholla langsung berangkat, alhamdulillah ketemu beliau di bulak sawah antara Bacem dan Nglandung. Dari situ balik lagi ke Balerejo, Druju, dan seterusnya, kadang melewati jalan tengah sawah, sampai di Tambakmas dan terus ke nDanyang Ponorogo. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Somoroto, kami mengisi bahan bakar dulu makan nasi pecel di Pasar nDanyang. Setelah tiba di Somoroto, beliau saya ajak mampir di rumah Pak Sudarmadi (putro ragil mbah Soedjarwo, guru di desa Banaran tahun 50-an). Kerawuhan Pak Kiyai Qosim, pak Sudarmadi seneng sekali dan merasa seperti mendapat sesuatu yang tak ternilai harganya, setelah menceritakan kabar keselamatan dan keluarga, ada 2 hal penting yang perlu kami sampaikan yaitu :
1. Pak Sudarmadi appreciate dan menghargai kebesaran hati serta keikhlasan KH Qosim untuk tetap menjadi Imam sholat Jum'at di masjid Lorkali, meskipun sudah punya masjid sendiri. Dalam hal ini KH Qosim bertujuan agar umat/jamaah tetap bersatu, dikhawatirkan kalau mengadakan sholat Jum'at sendiri maka umat/jama'ah akan pecah menjadi dua dan akan sulit untuk mempersatukan kembali.
2. Pak Sudarmaji bertanya : Mengapa khutbah Jum'at menggunakan bahasa Arab semua tidak disampaikan dalam bahasa Jawa/Indonesia ?. Apa takut kuwalat ?. Pak Kiyai menjawab bahwa khutbah dalam bahasa Arab itu sudah dilakukan oleh para Khotib/Kiyai sebelumnya. KH Qosim siap untuk menyampaikan khutbah seperti masjid-masjid yang lain, tetapi tidak dilakukan untuk menghindari pro dan kontra jama'ah dan gejolak ini akan berujung kepada perpecahan umat. Tidak akan kuwalat seandainya khutbah disampaikan dalam bahasa Jawa/indonesia, demikian penjelasan KH Qosim menjawab pertanyaan tersebut.
Pulangnya, kami mampir di rumah H. Basori, dan terus terang minta minum karena haus sekali. Karena sendirian, H. Basori membuatkan es susu milo dan mie goreng, alhamdulillah dapat memulihkan tenaga yang sudah terkuras setelah ngonthel dari Ponorogo. Bertambah seneng karena di rumah H. Basori, ketemu Pak Wazir (putro Pak H. Fachruddin, mantan Jogoboyo Banaran) kawan lama saya dulu (foto : paling atas di rumah Pak Sudarmadi, selanjutnya di rumah Pak H. Basori).
Dari pembicaraan baik ketika berhenti maupun dalam perjalanan pulang pergi Banaran-Somoroto, saya berpendapat bahwa beliau adalah " Kiyai Gaul " artinya beliau mau bergaul dengan semua lapisan masyarakat/jama'ah dengan berbagai latar belakang. Subhanalloh walhamdulillah.....
Waktu / Jam
Hari & Tanggal
Pesan Warga Banaran
Penerjemah 12 bahasa
Daftar Isi :
- Administrator Blog Desa Banaran (1)
- Afrika Selatan Menjelang WC-2010 (1)
- Ahmadi mewakili Kelompok Tani (1)
- Amaliah Gus Dur (1)
- Anggaran Pilkades (2)
- Bakar Jagung di Hongkong (1)
- Bersepeda dengan KH Qosim (1)
- Bill Gates dan Xerox (1)
- Bintang Baru Mart (1)
- dan Menteri (1)
- Demo di Hongkong (1)
- Demokrasi mahal ? (1)
- Denmark (1)
- Foto di dalam Ka'bah (1)
- Foto DN dan LN (1)
- HBH WBC (1)
- Hikmah membaca Al-Qur'an (1)
- Instalasi Biogas (1)
- Ir. Sukarji (1)
- Jadwal Piala Dunia 2010 (1)
- JAHE - Tanaman Obat (1)
- Kades Banaran 1975-1990 (1)
- Kecintaan Ukasyah kepada Rasulullah SAW (1)
- Kelompok Tani Mardi Mulyo (1)
- Khittah Ekonomi Kerakyatan NU (1)
- Kiyai Gaul (1)
- Kyai Sahal Mahfudh dan Gus Mus Hadiri Ta'aruf PBNU (1)
- Lomba Desa (1)
- Masjid Nabawi (1)
- Masjid Pertama akan Dibangun di Copenhagen (1)
- Menukar Rupiyah dengan Riyal (1)
- MM (1)
- Para Kades/Lurah Banaran (1)
- Pertanian (1)
- Pertanian sebagai Landasan Ekonomi (1)
- Pesan Gus Dur (1)
- Pilkades Banaran (1)
- Poligami Rasulullah (1) (1)
- Poligami Rasulullah (2) (1)
- Pramex dan MJ (1)
- Presiden (1)
- Rumah Nabi (1)
- Rumah Paling Utara (1)
- Seragam Panitia (1)
- SMP Terbuka (1)
- SP2010 (1)
- UU Lalin 22/2009 (1)
- Wapres (1)
Ngonthel ke Somoroto dengan KH M. Qosim
HBH WBC 'Idul Fitri 1431H


Alhamdulillah, Halal Bihalal dan silaturrahim Wong Banaran Community pada tanggal 2 Syawal 1431H di rumah Bapak Misran berjalan dengan baik dan lancar. Karena hujan, yang hadir kurang dari 50% anggota WBC, namun demikian hal ini tidak mengurangi hakikat dan manfaat dari acara ini. Terimakasih kepada Almukarrom KH Qosim, Pak Misran/Mas Didik sebagai sohibul bait, Pak Komari/Kades, dan para hadhirin semua.....
Foto kiriman dari Dalam dan Luar Negeri
Keterangan (searah jarum jam, dari kiri atas) : Masjid Raya Islamic Center Samarinda, Stadion Utama Samarinda, Kep. Seribu Ancol Jakarta, Taman Mini di Daegu Korea Selatan
Keterangan (searah jarum jam, dari kiri atas): The Burchart Garden di Vancouver-Canada, Pemandangan Kota Hongkong, Di depan pintu gerbang Disneyland Hongkong, Bis Tingkat di Hongkong.
Pertanian, Khittah Ekonomi Kerakyatan NU
Mayoritas warga NU menggantungkan hidupnya dari pertanian. Sudah selayaknya PBNU mencurahkan perhatiannya pada pengembangan sektor pertanian guna mengangkat nasib jutaan petani yang notabene mayoritas nahdliyin. KH Said Aqil Siradj dalam rapat pertama harian syuriyah-tanfidziyah yang diselenggarakan PBNU pekan lalu dengan tegas menjadikan pertanian dan nelayan sebagai salah satu lima program pokok PBNU. Selanjutnya, menjadi tugas penting bagi Lembaga Pengembangan Pertanian (LP2NU) untuk menggerakkan sektor ini.
Ahli Pertanian UGM, yang kini juga menjadi salah satu ketua PBNU Prof Dr Maksum mendukung program ini dan menegaskan betapa pentingnya sektor pertanian, tetapi diabaikan oleh pemerintah, sebagai akibatnya, banyak produk pertanian terpaksa diimpor.
“Sebagai negara agraris, Indonesia melakukan importasi terhadap segala macam pangan utama, korban utamanya adalah produsen domestik, yaitu rakyat tani yang mayoritasnya adalah Nahdliyyin,” katanya kepada NU Online, Selasa.
Ia mencontohkan tahun 2009 negara mengimpor garam dapur sampai 70 persen, padahal banyak daerah yang menjadi produsen garam seperti di Pati, Rembang dan Sumenep.
“Kenapa import dipilih sebagai solusi? Kenapa bukan melakukan pembenahan sistem produksi basis Nahdliyin untuk efisien dan bersaing? Kalo garam negeri maritim ini harus impor begitu besar, lantas apa lagi yg dibanggakan?” tanyanya.
Balada yg sama terjadi pula pada kedele yang 70 persen impor, daging sapi 40 persen, susu sapi 70 persen, bawang putih 90 persen, gula 40 persen, dan lain-lain. Untuk terigu? tentu 100 persen. Masih banyak lagi balada di Republik tercinta.
“Sekilas gambaran ini mengisyaratkan cakupan gerak NU dan LP2NU ke depan mulai dari tingkat mikro sampai makro dalam menegakkan Khitthah Ekonomi Kerakyatan NU, al-zirai'yyah,” tambahnya.
Dijelaskannya, pada tingkat mikro, benah pemberdayaan harus mulai ditata ulang melalui pendampingan Rakyat Tani, lahan, tata air, teknologi, pasar, kapital, dan lainnya merupakan ranah benah yang sampai sekarang nyaris jalan di tempat.
“Untuk kapital misalnya, pengembangan Kredit Pedesaan nyaris gagal total menyentuh Rakyat Tani Miskin, RTM Nahdliyin. Ini fakta. Solusinya? Kalo NU tidak bisa kembangkan sistem keuangan pedesaan ya kehilangan momentum. Untuk ini BMT harus digalakkan oleh Lembaga Perekonomian NU,” tandasnya.
Pendampingan teknologis dan advokatifnya harus dijalankan oleh LP2NU bersama dengan LPNU. Urusan produktifitas, efisiensi dan daya saing melalui pendekatan pemberdayaan pada tingkat mikro petani.
“Ini harus harus dilakukan lebih methodologis, bahasa NU-nya lebih manhajiyyah. Pertanian inilah sesungguhnya konsentrasi utama Khitthah Ekonomi Kerakyatan NU,” tegasnya.
Upaya advokasi juga harus dilakukan sampai pada tingkatan makro karena ashbabul masa'il, biang persoalannya sesungguhnya adalah kebijakan makro yg selama ini menganak-tirikan rakyat tani miskin, RTM meskipun persoalan mikro, efisiensi dan daya saing adalah keniscayaan yang harus dibenahi serius.
“Karena itu advokasi pada tingkat meso dan makro harus juga senantiasa dilakukan oleh LP2NU dan bahkan PBNU agar supaya pembangunan perekonomian nasional tidak semakin salah kiblat, tidak semakin dholim terhadap kehidupan mayoritas warga NU, RTM Nahdliyyin,” terangnya. (mkf/nuonline) 5 Mei 2010 12:57:41 (www.gusmus.net)
Amaliah Gus Dur

Amaliyah Gus Dur
Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri
Memperingati 100 hari wafat Gus Dur. Duduk di depan makam Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) dan tokoh-tokoh Tebuireng, Kiai sepuh kharismatik, KH. Maemoen Zubair yang malam itu hadir bersama nyai dalam acara 40 hari wafat Gus Dur di Tebuireng, sempat bertanya –seolah-olah kepada diri—mengenai fenomena presiden keempat itu.
Pertanyaan yang juga mengusik pikiran saya dan mungkin banyak orang yang lain. Amaliah Gus Dur apa kira-kira yang membuat cucu Hadhratussyeikh KHM. Hasyim Asy’ari dan KH. Bisri Sansuri itu dihargai dan dihormati orang sedemikian rupa setelah kemangkatannya. Penghormatan yang belum pernah terjadi pada orang lain, termasuk presiden maupun kiai.
Pers dunia tidak hanya memberitakan kewafatannya, tapi menulis tentang diri Gus Dur. Di saat pemakaman, keluarga ; masyarakat; dan pemerintah; seperti ‘berebut’ merasa paling berhak menghormatinya. Dan ternyata pemakaman Kiai Bangsa ini bukanlah penghormatan terakhir. Rombongan demi rombongan dari berbagai pelosok tanah air, setiap hari berdatangan di makamnya. Bahkan banyak peziarah yang memerlukan datang dari luar negeri. Mereka semua datang dengan tulus menangisi dan mendoakannya. Sebagian malah ada yang memohon maaf kepada Gus Dur atas kesalahannya; termasuk seorang ibu yang menangis memohon maaf karena tahun 2004 tidak memilih PKB.
Di samping acara-acara doa bersama untuk Gus Dur, berbagai acara untuk mengenang dan menghormati almarhum diselenggarakan dimana-mana. Ada yang bersifat ritual keagamaan; ada yang dikemas dalam bentuk pengajian umum, saresehan, kesenian, dlsb. Acara-acara itu tidak hanya diselenggarakan oleh kalangan Pesantren, Nahdliyin, kaum muslimin; tapi juga oleh kalangan agama-agama dan etnis lain. Dalam rangka peringatan 40 hari wafatnya, di mana-mana pun orang menyelenggarakan acara khusus. Tidak hanya di Tebuireng dan Ciganjur Saya sendiri dapat sembilan undangan dalam rangka yang sama.
Saya mendatangi undangan Gus Sholahuddin Wahid dan keluarga Bani Wahid di Tebuireng. Menyaksikan ribuan warga masyarakat yang mulai pagi hari sudah berdatangan menuju komplek Pesantren dimana terletak makam Gus Dur. Rahmat Allah berupa hujan, mengguyur Tebuireng dan sekitarnya. Saya menyaksikan sekian banyak orang ber-basah-basah berjalan dari tempat-tempat kendaraan mereka di parkir –yang jaraknya berkisar antara 3 sampai 5 km—menuju ke makam. Saya menyaksikan di samping tempat-tempat parkiran, tukang-tukang ojek dadakan, juga warung-warung baru. Semuanya itu tentu untuk melayani para peziarah.
Dan malam itu, ribuan umat duduk khidmat di sekitar makam untuk berdzikir dan berdoa. Renyai hujan seolah-olah ikut mengamini doa mereka. Saya mendengar kabar, hal yang kurang lebih sama juga terjadi di Ciganjur.
Kembali ke pertanyaan Kiai Maemoen di atas. Ketika Gus Dur ke rumah saya di Rembang, seminggu sebelum wafat, beliau ada menceritakan mimpi saudaranya. Mimpi, yang menurut saudaranya itu, aneh dan ingin ditolaknya. Saudaranya itu bermimpi berada dalam jamaah salat. Termasuk yang ikut menjadi makmum adalah Hadhratussyeikh KHM. Hasyim Asy’ari dan yang menjadi imam … Gus Dur.
Barangkali untuk menghilangkan kekecewaan saudaranya yang tampak kurang senang Mbah Hasyim kok makmun Gus Dur meski hanya dalam mimpi, Gus Dur pun berkata menafsiri mimpinya itu: “Ya kalau soal akhlak dan agama, imamnya memang harus Hadhratussyeikh; tapi kalau soal politik, imamnya ya saya.”
Tapi tentu saja bukan karena ‘politik’nya, Gus Dur mendapat penghargaan dan penghormatan yang begitu fenomenal dari umat. Apalagi pada saat dunia politik cemar dan memuakkan seperti sekarang ini. Lalu, apakah karena ‘amaliyah pluraliyah’-nya? Tentu bukan juga. Sebab kalau karena ini, bagaimana kita menjelaskan tentang banyaknya kiai yang juga merasa sangat kehilangan dengan wafatnya Gus Dur dan dengan tulus mendoakannya, padahal mereka tidak paham atau tidak setuju pluralisme?
Ataukah fenomena itu hanya sekedar pengejawentahan dari rasa kesal masyarakat terhadap umumnya pemimpin yang masih hidup, yang tidak jujur (lain di mulut, lain di perbutan), dan tidak konsisten memikirkan dan berpihak kepada rakyat?
Menurut saya sendiri; Gus Dur dihargai dan dicintai beragam orang, karena Gus Dur menghargai keberagaman dan mencintai beragam orang. Gus Dur dihormati orang secara tulus, karena Gus Dur tulus menghormati orang. Gus Dur bersemayam di hati orang banyak, karena orang banyak selalu berada di hati Gus Dur. Gus Dur, setahu saya, sering dan banyak berbeda dengan orang, tapi tidak pernah benci kepada mereka yang berbeda, bahkan kepada yang membencinya sekalipin. Gus Dur tidak hanya mengenal persaudaraan kepartaian; persaudaraan ke-NU-an; persaudaraan keIslaman; persaudaraan keseimanan; persaudaraan keIndonesiaan; tapi lebih dari itu juga persaudaraan kemanusiaan. Dan itu amaliyah. Bukan sekedar ucapan. Wallahu alam.
(dari www.gusmus.net)
Masjid Pertama akan Dibangun di Copenhagen, Denmark

Masjid Pertama akan Dibangun di Copenhagen, Denmark
19 April 2010 12:07:03
Dewan Kota Copenhagen telah menyetujui izin perencanaan bagi masjid pertama di kota itu, yang memiliki beberapa menara, kata seorang tokoh agama di ibukota Denmark tersebut, Jumat 16/4.
Pemimpin Pusat Imam Ali di Copenhagen, Hujjatul Islam Mahdi Khademi, mengatakan masjid seluas 2.000 meter persegi tersebut akan meliputi dua menara setinggi 32 meter dan satu kubah berwarna biru.
Di Denmark terdapat sebanyak 250.000 Muslim, dan 80.000 di antara mereka adalah pemeluk Syiah, katanya.
Masjid itu dilaporkan akan memiliki satu ruang shalat, amphiteater, ruang pertemuan, perpustakaan dan akomodasi buat imam yang berkunjung.
Selama lebih dari 20 tahun, umat Muslim tak diperkenankan membangun masjid di Copenhagen.
Juga tak ada kompleks pemakaman buat orang Muslim di Denmark, sehingga jenazah umat Muslim harus diterbangkan pulang ke negara asal mereka untuk dimakamkan secara layak. (ant/mad/nuonline, via www.gusmus.net)
Kyai Sahal Mahfudh dan Gus Mus Hadiri Ta'aruf PBNU

Kyai Sahal Mahfudh dan Gus Mus Hadiri Ta'aruf PBNU
Ta'aruf sekaligus pelantikan PBNU 2010-2015 berlangsung khidmat dan semarak di Auditorium Pegadaian Jakarta Rabu 29/04. Rais Aam PBNU Dr. KH Sahal Mahfudh dan Wakil Rais Aam PBNU Dr. KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) menghadiri acara tersebut yang juga dihadiri ribuan warga NU sehingga memenuhi ruangan acara.Seperti biasa acara Ta'aruf diawali dengan pembacaan tahlil dan ayat suci Al-Qur'an, lalu shalawat badar dan lagu Indonesia Raya.
Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh Sahal dalam taushiyahnya meminta kepada seluruh pengurus PBNU untuk berkhidmat sebaik-baiknya untuk warga NU, Umat Islam dan Bangsa Indonesia.
Susunan pengurus dari Mustasyar, Syuriyah, dan tanfidziyah dibacakan oleh Sekjen PBNU H Iqbal Sullam. Satu-persatu pengurus maju ke depan dan hendak dilantik oleh KH Sahal Mahfudh.
Namun semua terkejut, saat semua sudah siap dilantik, Kiai Sahal hanya mengatakan satu kalimat setelah membaca basmalah, takni “Rodlitu billahi robba” dan langsung menyatakan pelantikan selesai. Para pengurus pun belum sempat menirukannya, dan setelah dinyatakan dilantik warga Nahdliyin yang hadir pun langsung menyambut dengan tepuk tangan.
Antuasiasme Warga NU, PBNU Fokus Kerja
Walaupun panitia hanya mengedarkan tiga ratus undangan, namun sekitar seribu warga NU juga turut hadir pada Ta'aruf dan pelantikan PBNU tersebut. Akhirnya ruangan terasa penuh sesak. Warga NU berdiri di sela-sela kursi belakang dan samping, bahkan berdesak-desakan di ruang makan yang disediakan di belakang acara serta samping kiri dan kanan dalam gedung.
Rais aam PBNU KH Sahal Mahfudz menegaskan setelah acara taaruf dan pelantikan para pengurus PBNU periode 2010-2015 Rabu malam, langkah selanjutnya adalah melaksanakan kerja-kerja organisasi.
“Kita tidak lagi bicara kepengurusan, Kita fokus melakukan kerja, jangan memikirkan yang lain, nanti tidak akan selesai-selesai,” katanya dalam rapat pleno para pengurus NU yang berlangsung di gedung PBNU, Kamis (29/4).
Dalam waktu dekat, pengurus baru akan melakukan audiensi dengan presiden dan para menko terkait sosialisasi program sosial keagamaan yang menjadi program NU.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyatakan terdapat lima program utama yang akan dijalankan, yaitu kembali ke pesantren, pendidikan melalui pemberdayaan Maarif NU, peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan yang merupakan konstituen NU serta menghidupkan kembali lailatul ijtima’ (malam pertemuan rutin sekaligus pengajian).
“PBNU tak akan mengurusi politik, kalau ingin berpolitik, silahkan berkarir di partai politik. PBNU bukan tempatnya untuk berpolitik,“ katanya.
Ia mengaku senang jika kader-kader NU yang terjun ke politik mampu menempati posisi-posisi strategis di berbagai partai politik yang ada di Indonesia.
“Kami senang kalau para ketua-ketua umum partai politik berasal dari NU, yang dari Demokrat, PKB, PDIP, Golkar dan lainnya” katanya.
Rapat pleno yang berlangsung hari ini selain membicarakan fokus program juga mengagendakan pembentukan kepengurusan lembaga dan lajnah yang selanjutnya akan menjalankan program yang disusun oleh PBNU.
Menurut Sekjen PBNU H Iqbal Sullam, panitia hanya menyebarkan tigaratus undangan, namun yang hadir ternyata membludak. ”Kami sudah prediksi sebelumnya, pasti yang hadir melebihi undangan. Tapi tidak masalah, beginilah NU. Malah kita merasakan antusias warga yang luar biasa terhadap kepengurusan baru,” katanya kepada NU Online di sela acara. (Diolah dari NUOnline via www.gusmus.net)
Kecintaan Ukasyah kepada Rasulullah SAW

Sepenggal Kisah Cinta Ukasyah kepada Nabi Muhammad SAW
Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah tertunduk
terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang, atau senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah hatinya. Sebutir hari terus bergulir, namun semua tetap sama, kelabu. Ujung waktu selalu saja hening, padahal biasanya kegembiraan mewarnai keseharian mereka. Padahal
semangat selalu saja menjelma. Namun kali ini, semuanya luruh. Tatapan-tatapan kosong, desah nafas berat yang terhembus bahkan titik-titik bening air mata keluar begitu mudah. Sahara menetaskan kesenyapan, lembah-lembah mengalunkan untaian keheningan. Kabar sakitnya manusia yangdicinta, itulah muasalnya.
Setelah peristiwa Haji Wada' kesehatan nabi Muhammad Saw memang menurun.
Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun. Semula, kaum
muslimin bergembira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar mendesirkan angin
kematian Rasulullah. Sahabat terdekat ini menyatakan bahwa kepergian
kekasih Allah akan segera tiba dan saat itu adalah saat-saat perpisahan dengan
purnama Madinah telah menjelang. Selanjutnya bayang-bayang akan kepergian
sosok yang selalu dirindu sepanjang masa terus saja membayang, menjelma
tirai penghalang dari banyak kegembiraan.
Dan masa pun berselang. Mesjid penuh sesak, kaum Muhajirin beserta Anshar.
Semua berkumpul setelah Bilal memanggil mereka dengan suara adzan.
Ada sosok cinta di sana, kekasih yang baru saja sembuh, yang membuat semua sahabat tak melewatkan kesempatan ini.
Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar.
Suaranya basah, menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah yang Maha
Pengasih. Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat,
semua menajamkan pendengaran menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi
yang baru berada lagi. Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkai hikmah.
Selanjutnya Nabi bertanya.
"Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara
kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang
untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena
sekarang itu lebih baik".
Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat
lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal.
Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang
diperintahkannya, selalu membuihkan bening sari pati cinta. Tak akan rela
sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun
akan digadaikan untuk membela Al-Musthafa.
Melihat semua yang terdiam, nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini
suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang.
Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah
'Ukasyah Ibnu Muhsin.
"Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan
untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai
kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat
berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku"
ucap 'Ukasyah.
Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri
kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya
terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak
ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih yang baru saja sembuh.
Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah. Segera setelah sampai,
cambuk diserahkannya kepada Rasul mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke
tangan 'Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.
Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat
maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas
sejak dari tadi, dia lah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok pemberani, yang
ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Nabi menyapanya sebagai Umar
Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata:
"Hai 'Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian
manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau
pukul Rasul"
"Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian", Nabi
memberi perintah secara tegas. Ke dua sahabat itu lemah sangsai, langkahnya
surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok 'Ukasyah dengan pandangan
memohon. 'Ukasyah tidak bergeming.
Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi thalib tak tinggal
diam. Berdirilah ia di depan 'Ukasyah dengan berani.
"Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas
Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku"
"Allah Swt sesungguhnya tahu kedudukan dan niat mu duhai Ali, duduklah
kembali" Tukas Nabi.
"Hai 'Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu
Rasulullah, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami,
itu artinya mengkisas Rasul juga", kini yang tampil di depan U'kasyah adalah
Hasan dan Husain. Tetapi sama seperti sebelumnya Nabi menegur mereka.
"Duhai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku. Duduklah".
Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak
terhitung yang menahan nafas. 'Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak
ada lagi yang berdiri ingin menghalangi 'Ukasyah mengambil kisas. "Wahai
'Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku," Nabi
selangkah maju mendekatinya.
"Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang
menghalangi lecutan cambuk itu". Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan
ghamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah.
Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.
Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, 'Ukasyah langsung
menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya
Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan
kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. 'Ukasyah
menangis gembira, 'Ukasyah bertasbih memuji Allah, 'Ukasyah berteriak haru,
gemetar bibirnya berucap sendu, "Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah
yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap
tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini
menjagaku dari sentuhan api neraka".
Dengan tersenyum, Nabi berkata: "Ketahuilah duhai manusia, sesiapa yang
ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini". 'Ukasyah
langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut
mencium 'Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. "Duhai, 'Ukasyah
berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah
engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di
surga". Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru
Madinah.
(Dikutip dari eramuslim)
Sensus Penduduk Tahun 2010
Silahkan dibaca, kalau terlalu kecil klik brosur-nya. Terima kasih.
Lomba Desa Kabupaten Madiun



Desa Banaran mewakili Kecamatan Geger dalam rangka Lomba Desa Tingkat Kabupaten Madiun. Di atas sebagian foto-fotonya (lihat juga di facebook, atau foto seputar banaran di sebelah kiri)
Pesan Warga Banaran
Profile Desa Banaran
- Desa Banaran
- Madiun, Jawa Timur, Indonesia
- Banaran adalah sebuah desa di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Secara geografi sebelah utara dan timur berbatasan dengan desa Klorogan Kecamatan Geger, sebelah selatan dan tenggara desa Bangunsari Kecamatan Dolopo dan sebelah barat desa Singgahan Kecamatan Kebonsari. Dulu ketika kita menyebut Banaran, maka orang akan mengira Banaran yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Ngawi Jatim dengan Kabupaten Sragen Jateng (sekitar Mantingan). Bagi yang sering bepergian Yogyakarta-Semarang, maka antara Magelang-Semarang ada coffee terkenal milik PTPN dengan nama Banaran Coffee. Sekarang mungkin sudah berubah seiring dengan berkembangnya masyarakat dan desa Banaran.